Tulisan berikut juga merupakan tugas kritik seni yang pernah saya buat pada tahun 2019. Namun saya membuatnya dengan menyaksikan pameran di House of Sampoerna Surabaya. Pada tulisan ini sengaja tidak saya lakukan pengeditan untuk menyimpan kenangan di tahun 2019. Selamat Membaca.
Perempuan dan Semangat Hidup
Perempuan dalam budaya patriarki sering mengalami penindasan. Semangat untuk hidup acap kali sirna dan menerima apa yang ada. Sejarah kehidupan perempuan adalah sejarah penindasan. Karya seni yang dapat menjadi sebuah ekspresi dari luapan emosi seniman yang dapat menimbulkan reaksi timbal balik kepada seniman dan penikmat seni. Seperti pada karya Jeany Lee yang berjudul MY Spirit My Cup. Karya ini dipamerkan pada pameran Floating In Harmony yang diselenggarakan di Galeri Paviliun, Taman Sampoerna 6 Surabaya. Pameran diselenggarakan pada 14 Maret 2019 – 06 April 2019. Pada pameran tersebut menampilkan berbagai macam karya dari 11 seniman yang terlibat. Pameran tersebut dibuat dalam rangka menunjukkan ekspresi seniman dalam menyikapi perubahan dunia yang saat ini terjadi.

My Spirit in My Cup
Sumber Dokumentasi Shalihah
Karya Jeany lee yang berjudul My Spirit in My Cup dibuat dari Stoneware Glaze yang dibentuk seperti cangkir berwarna putih yang disusun memanjang, terdiri dari 11 cangkir di sisi kanan dan kiri dan 4 cangkir di tengah. Dalam setiap cangkir diisi dengan air dan di dalamnya terdapat tulisan-tulisan seperti “work”, “Art”, “Hope”, “Karma”, “Home Sweet Home”, “Pray”, “Friend”, “Love”,”Honey”, “Kids”, dan “Calm”. Selain tulisan terdapat pula gambar perempuan yang dibuat dari keramik, kupu-kupu, bunga, dan 2 figur setengah badan yang berwarna setengah kuning dan biru, terdapat pula sebuah sayap kecil di dalam cangkir tersebut.
Melihat karya tersebut dapat dirasakan semangat Jeany Lee sebagai perempuan melalui karya seninya. Semangat yang menjadi penggerak untuk tetap mau menjalani hidup ia ungkapkan melalui 15 cangkir tersebut. Jeany lee yang bekerja sebagai pengajar dan juga sebagai seniman menjadi kekuatannya dalam kehidupan. Proses dan perjalanannya dalam berkarya seni yang tiada hentinya dan butuh perjuangan memberikan sisi positif dan semangat. Menurutnya seni menjadi medianya dalam mencurahkan setiap beban yang ada di pikiran dan hatinya, saat ia sedang berkarya ia akan merasakan kelegaan dalam dirinya. Harapan, permohonan, karma menjadi bagian yang tak terpisahkan pada dirinya. Cinta nya pada keluarga, anak, dan teman-temanya menjadi penyemangat dikala ia sedang senang maupun sedih, mereka menjadi penawar rindu dalam hari-harinya. Kemudian bagi Jeany Lee rumah merupakan tempat ternyaman untuknya, rumah tempatnya untuk beraktivitas bersama keluarga, yang menjadi tempat nya untuk pulang dan beristirahat dikala ia lelah dengan aktivitas dan kehidupannya. Semangat sebagai seorang perempuan dan ibu tergambar pada gambar perempuan yang dia buat mewakili dirinya dan kedua anaknya. Ibu memiliki dan memberikan kasih sayangnya dalam kehidupan. Kedua anak perempuannya menjadi penyemangatnya dalam mendidik mereka untuk siap sebagai manusia. Kemudian 2 sosok figur yang berwarna kuning dan biru menunjukkan hubungannya dengan suaminya, mereka saling berbagi semangat kepada belahan jiwanya, saling memberi dorongan dan motivasi dalam kehidupan. Keindahan alam juga menjadi semangat Jeany lee yang tersampaikan melalui bunga-bunga dan kupu-kupu baginya alam begitu indah, dipenuhi dengan bunga-bunga dan kupu-kupu yang bertebaran. Kemudian dalam setiap cangkir air yang diisi merupakan bentuk bagaimana para penyemangatnya memenuhi dirinya yang siap diminum setiap saat.
Dunia memang berubah namun posisi perempuan yang di bawah laki-laki masihlah banyak terjadi dan bila pun ada perubahan hanya sedikit terjadi, seperti terlihat pada situasi Indonesia yang saat ini pemerintah telah dirancang undang-undang untuk menangani kekerasan seksual namun malah banyak terjadi penentangan yang tak jarang dilakukan oleh para perempuan. Padahal bila undang-undang tersebut disahkan akan melindungi perempuan. Harus apakah perempuan? Ingin bercerita dan mengungkap dirinya saja susah dan terhalang banyak hal. Ucapan tentang masalah perempuan dianggap sebagai aib dan dipaksa untuk harus ditutupi. Bagaimana menyampaikan kebenaran yang mereka alami? Bagaimana mengatasi masalah yang mereka alami? Bagaimana aku dapat dianggap ada sebagai manusia yang juga hidup di muka bumi. Dalam karya Jeany Lee ini telah memberikan saya dan mungkin perempuan-perempuan di luar sana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karya Jeany lee ini memberikan inspirasi bahwa ungapan tak harus melalui kata-kata namun bisa melalui seni karena seni dapat menyampaikan yang tak terkatakan. Karya Jeany Lee juga memberikan timbal balik kepada yang melihatnya bahwa untuk mencari penyemangat dalam hidup sudah tersedia pada diri kita.
Tinggalkan komentar