Pameran Perupa Perempuan Pesantren 2019

Saat mengambil mata kuliah “Kritik Seni” pada tahun 2019 saya mendapat tugas untuk menulis beberapa peristiwa seni. Pada tahun yang sama pula adalah saat-saat saya memulai untuk berpetualang dari Surabaya ke Yogyakarta. Sebuah kenekatan yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Namun karena rasa ketidaknyamanan atas diri yang dipenuhi kebingungan dan ketidaktahuan membuat saya menjadi nekat untuk menaiki bus Sumber Kencono ke kerajaan seberang. Berikut salah satu ulasan pameran yang pernah saya kerjakan, namun untuk meninggalkan jejak kenangan 2019 tulisan ini sengaja tidak banyak saya lakukan pengeditan. Selamat membaca.

Eksistensi Kehidupan dalam Karya Santriwati

Eksistensi perempuan dalam berkarya seni masihlah lebih terpinggirkan dari pada seniman laki-laki. Perempuan masih dianggap sebagai objek daripada sebagai subjek. Seperti ungkapan dari seniman Basuki Abdulah “Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis, daripada sebagai pelukis”. Namun apa yang terjadi saat perempuan menjadi seorang seniman? Kemudian bagaimana bila mereka juga seorang santriwati, yang dianggap merupakan orang-orang yang tertutup, cepat ingin menikah, dan anti dengan hal-hal yang dianggap bid’ah seperti seni.

Pada tanggal 22-24 Februari 2019 telah diselenggarakan pameran yang berjudul Ta’zir di Panggung Krapyak (Kandang Menjangan) Yogyakarta. Pameran diselenggarakan oleh Perupa Perempuan Pesantren yang beranggotakan lima perupa santriwati yang sedang mondok di daerah Kandang Menjangan antara lain Indah Fikriyyati, Adin Fatima Zukfa, Ittaqi Fawzia, Novella Hafidzoh, dan Luai Ihsani Fahmi. Pameran tersebut terselenggara berkat memenangkan dana hibah dari Cipta Media Ekspresi yang diadakan pada tahun 2018 silam. Pada pameran tersebut diselenggarakan acara diskusi yang diisi oleh Dr Katrin Bandel dan kemudian dilanjutkan dengan sesi Artist Talk yang diisi oleh semua peserta pameran.

Judul Ta’zir di pilih karena merupakan pengalaman yang berkesan untuk mereka. Ta’zir yang artinya adalah sebuah hukuman yang diberikan kepada santri yang melanggar peraturan di pondok. Hukuman yang biasanya dianggap mengerikan, namun bagi mereka pengalaman tersebut justru dimaknai sebagai proses pembentukan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Santri-santri menggunakan kesenian sebagai ruang berefleksi pada kehidupan pondok dan sebagai seniman.

Indah menampilkan karya yang berjudul Pada Setiap Helai yang dibuat atas pengalamanya saat di ta’zir untuk mencuci pakaian teman satu pondok selama dua minggu. Indah menampilkan gambar-gambar yang ditorehkan dengan cat air, kertas disusun menyerupai jemuran. Ia tampilkan gambar vagina, sosok perempuan, garis-garis abstrak, dan tulisan pasal-pasal ta’zir seperti “ pasal 23 kalau tidak pulang tepat waktu akan dipulangkan ke rumah calon mertua”, “kalau meninggalkan bekas cucian piring akan di ta’zir mencuci piring teman satu pondok sampai bosan”. Indah menyampaikan ta’zir sebagai jalan baginya untuk memperbaiki dan menempa dirinya dalam menjadi manusia. Dalam kehidupan masalah yang hendaknya ditanggapi dengan santai dan segera diselesaikan. Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan yang tangguh dalam menanggapi masalah-masalahnya.

Kontemplasi
Karya Adin Fahima Zulfa dan Ittaki Fawzia
Sumber Dokumentasi Shalihah

Adin dan Ittaqi berkolaborasi pada karya yang berjudul Kontemplasi. Saat memasuki ruangan dengan pencahayaan redup, tercium aroma dupa. ditampilkan video hitam putih suasana keheningan di pesantren seperti jemuran, Lorong, kipas angin, sandal yang berceceran, suasana sekitar pesantren yang terlihat dari lantai atas, sholat dengan mukena yang warna-warni, dan memainkan cutting. Kemudian ditampilkan adegan mengembalikan kitab, menutup Al-Quran, pena jatuh dan mengisi gelas dengan air. Pada dinding ruangan digantung beberapa foto yang merupakan shot adegan pada video tersebut. Kemudian disusun pula beberapa buku-buku kitab pada samping foto-foto tersebut. Suasana kehidupan pondok yang terkesan membosankan namun ada hikmah dibaliknya. Kehidupan berat yang ada di pondok mereka maknai sebagai hal yang positif. Keheningan menjadikan manusia untuk bisa melihat dirinya sendiri. Sikap keseharian menjadikan bekal untuk tetap bersabar dan menjalani kehidupan.

MY Head
Karya Novela Hafidzoh
Sumber Dokumentasi Shalihah

Novela menyusun tiga buah kursi yang diletakkan saling berhadapan. Pada ketiga kursi diletakkan dua kaos warna putih yang ternoda cat dan satu baju koko dan sebuah peci hitam. Diterbangkan balon warna-warni yang memuat tulisan harapan-harapan yang ditulis pengunjung seperti “Bebas dari belenggu ketakutan”, “ingin jadi bidan”. Novela mengekspresikan bahwa harapan hendaknya digantung setinggi mungkin. Dalam memenuhi harapan dibutuhkan kerja keras namun tidak lupa untuk berdoa. Kegiatan berkesenian dan beragama saling melengkapi dalam menggapai cita-cita.

Ta’allam
Karya Luai Ihsan Fahmi Sumber
Dokumentasi Shalihah

karya Luai berjudul Ta’Allam disusun sebuah lukisan kaligrafi berwarna coklat dengan latar abstrak ta’limul muta’allim yakni yang artinya “hendaklah belajar pengetahuan karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu menjadi perhiasan orang-orang yang berilmu dan juga ilmu itu bisa menjadi kelebihan serta menjadi tanda-tanda bagi setiap perkara yang terpuji.” Di depannya diletakkan sebuah meja di atas sebuah tikar, pada meja tersebut diletakkan beberapa alat tulis, kuas, kitab dan buku perkuliahan. Di letakkan pula sebuah surat yang dibuat oleh ibu Luai untuk menyemangatinya agar tetap kerasan dipondok. Dalam menjalani dualitas sebagai santri dan mahasiswa seni membuatnya untuk berusaha tetap seimbang dalam menjalani dan mempelajarinya. ilmu yang diperoleh dari pondok disampaikan melalui seni sebagai media dakwah. Ibu juga menjadi penyemangatnya saat hampir menyerah dalam belajar.

Menjalani kehidupan sebagai perempuan, santri, dan mahasiswa seni mengalami pencampuran dalam tempaan yang dihadapi. Eksistensi perempuan yang dianggap sebagai makhluk kelas kedua dan sebagai santriwati yang dianggap sangat terkurung serta sebagai mahasiswa seni yang keberadaannya dianggap sebagai manusia yang urakan, pemberontak, tak mengenal jam malam yang bila di pikirkan maka akan muncul pertanyaan bagaimana seorang santri sekaligus sebagai perempuan untuk tetap eksis dalam berkesenian. Namun para santriwati tersebut membuktikan bahwa mereka tetap bisa. Keterbatasan yang mereka miliki malah menjadi kekuatan dan keunikan mereka dalam berkarya seni dan menunjukkan eksistensi mereka sebagai santriwati dalam kehidupan. Seni yang dapat mewadah eksistensi mereka, bila tidak menunjukkan eksistensinya maka seperti kutipan ‘ada namun tidak ada’.

Tinggalkan komentar

Situs yang Dikembangkan dengan WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai