Sebuah kisah #1

Aku seorang gadis biasa yang belum memiliki banyak teman, dan kehilangan banyak ingatan ku. Yang ku tahu hanya tentang pelajaran di sekolah dan bangku kuliah serta kesenangan ku akan menggambar dan mengungkap berbagai hal menarik yang terbesit di pikiran ku.

Terkadang aku sangat takut menjalin hubungan dengan orang lain, entah sebagai teman, guru, dan juga kekasih. Bahkan di usia 22 tahun ini aku tak pernah memiliki satupun kekasih. Sementara banyak teman sekolah ku yang sudah dikarunia anak. Namun aku tak ingin tergesa-gesa untuk itu, tak ingin masyarakat mengurungku hanya karena aku seorang perempuan.

Ku kerjakan beragam hal yang membuat hati ku senang serta membuat ku semangat dalam menjalani hidup ini. Yaitu menggambar, melakukan penelitian, dan menulis. Aku merasa hidup saat melakukannya, hidupku merasa berguna dan tak sia-sia.

Satu lagi yg ku suka saat menjalani hobi ku tersebut, karena aku bisa bertemu orang-orang baik. Aku merasa dapat merasakan kehangatan yang mereka pancarkan, kehangatan yg sangat sulit ku jelaskan. Kehangatan yang selama belasan tahun tak pernah ku rasakan. Kurasakan pancaran itu terutama dari para dosen dan guru ku yang senantiasa memberi ku berbagai nasehat. Mereka telah membuat hati ku yang awalnya tertusuk pedang dan terantai dalam kegelapan menjadi sirna.  Membuat ku mulai berani untuk tersenyum dan menatap cermin.

Namun saat ini aku heran dengan diri ku. Tentang diriku yang justru ketakutan untuk memulai. Ketakutan untuk mulai menulis. Ketakutan untuk memulai menggambar. Dan ketakutan untuk mulai membuat karya-karya. Padahal ide-ide telah bertumpuk di pikiran ku. Beragam fasilitas bacaan juga telah ku miliki. Namun aku selalu melihat monster yang menjegal ku. Membuat ku takut setiap akan memulai. Tiap malam air mata ku pun juga menetes. Hari ini pun demikian.

Tiba-tiba ku lihat buku berjudul “Seni dan Daya hidup” disampingku. Ingatan ku kembali ke 2019 saat aku membeli dan bertemu penulisnya, yaitu Prof Dwi Marianto. Beliau yang telah memberiku beragam nasehat dan meminta ku untuk selalu mengingat untuk tetap “bergetar dan mengalir”.

Berikutnya di sebelahnya ku lihat pula buku dari salah satu orang yang sangat ku kagumi. Buku berwarna pink yang berjudul “Membaca Praktik Negosiasi Seniman Perempuan dan Politik Gender Orde Baru” buku yang sangat spesial, dibeli dengan memotong gaji magang ku di tempat beliau. Saat halaman pertama dibuka terdapat pesan “Semangat untuk Terus Belajar” kepada ku yang dibawahnya dibubuhi tanda tangan serta namanya.

Ku peluk kedua buku itu dan teringat pesan dari Dosen ku untuk menulis pengamatan terhadap diriku setiap hari. Kemudian ku buat tulisan ini menggunakan aplikasi “Notes” di smartphone ku sebagai pengingat Shalihah pada 30 September 2020 pukul 01.26. ~ Kamar Tidur Art Lab (Madiun).

Tinggalkan komentar

Situs yang Dikembangkan dengan WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai